Selasa, 09 Oktober 2012

“Spring of Life" part III


“spring of life" part III

Aku fikir aku tidak akan berbicara lagi dengan key. Karena ku pikir sudah saatnya untuk dia sibuk. Memasuki kelas akselerasi membuat dirinya harus lebih fokus ke pelajaran dan masa depannya. Aku juga akan menempuh jalan yang sama disini. Hanya saja pergerakannya lebih lama dibanding dengan cara belajar yang dia alami sekarang.
Sudah hampir sebulan lamanya aku di SMA. Rasa yang masih terpendam kini perlahan sudah mulai menghilang. Meski terkadang aku harus menahan goresan yang sedikit-sedikit merambai hatiku. Sudah lama juga key tidak menghubungiku. Bahkan untuk di media social saja hanya berbincang-bincang dengan temannya saja. Tidak denganku. Aku mulai berfikir bahwa mungkin key juga telah melupakan aku.
Lebaran pun telah usai. Sebentar lagi aku akan kembali lagi dengan kegiatanku di cikarang. Semakin lama aku sudah tidak memikirkan key lagi. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan keadaan dimana tidak adanya dia untuk mengabariku atau sekedar mengucapkan “hai” padaku.
Ditengah perjalananku menuju rumah, handphone yang aku taruh disaku pun bergetar. Aku pikir itu dari teman-temanku yang sekedar member kabar atau ucapan hari raya yang tertunda. Tapi bukan. Aku terkejut senang melihat layar hapeku yang bertulisan nama key. Aku sempat tidak percaya. Itu benarlah key yang mengirim pesan. Kenapa key selalu datang dan pergi tiba-tiba2? Ucapku dalam hati sambil menahan gores dihati.
Tapi kali ini berbeda. Aku dan key hanya sebentar saja berbicara. Setelah itu kami tidak berbicara kembali. Aku merasa sedikit kecewa dengan itu. bahasa yang digunakan key saat berbicara denganku dulu tak dia pakai lagi sekarang ini. Mungkin benar… key telah lupa.
Awal September pun tiba. Key yang sekarang sudah mulai berbicara kembali padaku membuat aku tidak berfikir untuk melupakannya lagi. Tapi ada apa lagi ini? Beberapa hari ini aku tidak berbicara dengannya. Entah dia yang sering off atau karena dia bosan. Akhirnya aku menekatkan diri untuk stalking twitter nya. Ya, itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa tahu kenapa.
Seketika jantungku terasa penat dan sedikit tergores. Aku yang tanpa sengaja melihat key sedang mentionan bersama seorang gadis bernama geishashi ini membuatku untuk berpikir lebih matang bahwa aku harus benar-benar melupakan dia. Tidak, aku tidak menangis. Hanya semacam tersayat sedikit.
Ini hal yang membuatku takut. Hal yang selalu membuatku takut dekat dengan laki-laki adalah tergores. Pengalaman yang membuatku menjadi sangat trauma. Aku ingin sekali dekat dengan key. Ya, aku tahu. boneka yang diberikan padaku dapat membuatku lebih dekat dengannya.
Kini aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku hanya merasa bahwa dia adalah semacam kakak bagiku. Aku selalu takut jika berbicara dengan laki-laki. Aku pun selalu takut jika bertemu laki-laki. Memang tidak semua laki-laki yang aku takuti. Tapi aku takut akan hadirnya sisi traumaku lagi.
Aku juga tidak pernah membalas pesan atau mention dari teman lelakiku jika tidak terlalu penting untukku. Untuk berbicara dikelas pun aku tidak pernah berlama-lama dihadapan laki-laki. Aku hanya berbicara dari jarak yang jauh. Tapi terkadang aku bercurah hati dengan dekat. Mungkin perasaan yang membuat berbeda. Mungkin karena keakraban dan rasa agar aku tidak malu untuk berbicara didepan orang itu sudah hadir. Setidaknya aku tak perlu lagi bersembunyi setiap kali berbicara dengan lawan jenis…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar